Buku Baru

Halo internet, lama tak bersua. Well, belum lama ini gue membeli buku karya David Levithan yang berjudul “Are We There Yet?
gue belum bisa kasih review karena baru baca awalnya he he tapi sekarang gue lagi nggak mau bahas bukunya, yang mau gue bahas adalah kebiasaan gue saat membeli dan membaca buku.

Yang pertama, gue adalah orang yang menilai buku dari covernya. Serius. Kalau covernya nggak menarik gue malas bacanya ha ha ha ha ha (kecuali kalau pengarangnya adalah penulis favorit gue). Tapi menurut gue, cover itu bagian yang sangat penting dari sebuah buku karena itu hal pertama yang dilihat oleh calon pembaca. Banyak lho orang-orang seperti gue. Jadi kalau kalian mau menulis dan menerbitkan sebuah buku, tolong pikirkan cover yang menarik agar calon pembaca semakin tertarik untuk membaca karya kalian ya. Nggak perlu yang terlalu heboh. Makasih.

Yang kedua, gue suka mencium bau buku baru. Bau buku itu enak. Tapi nggak semua buku baunya enak sih, buku lama terbitan tahun 1980an yang kertasnya sudah menguning baunya sudah kayak bau lemari. Setelah beli bukunya, buka plastik pembungkusnya, buka bukunya, hirup aroma halamannya. Mungkin kalian pikir gue aneh? Sama saja seperti gue menganggap aneh kalian yang suka nyiumin bau gas di pom bensin.

Yang ketiga, gue sering malas mulai membaca tapi susah berhenti. Gue pernah baca sebuah buku, berhenti di tengah-tengah karena suatu hal, kemudian nggak gue lanjutin sampai sekarang. Sudah lupa ceritanya!!! Aku memang payah. Tapi sekalinya baca, kalau sudah seru, bisa nggak berhenti-berhenti. (“Nanggung kalau berhenti di sini” “Satu paragraf lagi” “Lagi seru nih” “Oke, habis ini tidur” “Satu kalimat lagi deh” begitu terus sampai akhirnya bukunya habis) Gue sering malas baca awalannya karena biasanya ceritanya masih adem ayem belum ada konflik. Begitu sampai bagian yang seru sudah nggak bisa berhenti baca.

Yang keempat, gue orang yang sangat gampang hanyut dalam cerita kalau baca buku. Bukan hanyut lagi sih, tenggelam. Gue bisa tiba-tiba marah kalau karakter kesukaan gue dijahatin tokoh lain. Gue nangis ketika karakter kesukaan gue mati. Gue bisa senyum-senyum kesenengan kalau OTP gue berhasil bersatu (atau dipersatukan kembali setelah sempat dipisahkan). Kadang-kadang suka nggak rela kalau bukunya habis. Nggak rela harus kembali menghadapi kenyataan setelah menghabiskan waktu di dunia fantasi.

Yah, begitulah gue kalau punya buku. Serial-serial (contoh: Harry Potter, Percy Jackson dan sekuelnya, Mortal Instruments, dll., dst.) selalu cukup menarik untuk bisa menghancurkan hidup gue. Kalau sudah cinta dengan serial itu gue bisa menjatuhkan diri ke dalam lobang setan yang biasa disebut fandom (tempat itu sangat berbahaya karena tidak ada pintu keluarnya). Setelah terjerumus dalam fandom, kegiatan utamanya biasanya membuka tumblr (me-reblog hal-hal yang berhubungan dengan fandom) atau baca fanfic atau nangisin OTP. Hore hancur sudah hidupmu.

yay you guys just find out that i dont have social life

Rindu

Lagi kangen sama MAXIMUSE.

Hampir sebulan kita bareng terus, dari hari pertama magang tanggal 15 Juni sampai Inaugurasi tanggal 11 Juli. Ke kantor, naik ke lantai lima, mengandalkan orang-orang yang bawa akses buat masuk, masuk ruang diklat, ngobrol bareng, di kelas bareng, kegiatan bareng, embedded, liputan bareng, bikin artikel bareng, ngerusuh di redaksi, nyanyi-nyanyi sambil gitaran, ah kangen pokoknya… Kangen anak-anaknya. Kangen Lantai Lima. Kangen perpusnya Kompas. Kangen redaksi. Kangen liputan. Kangen detik-detik sebelum deadline. Kangen wifi gratisnya Kompas. Kangen kantinnya Kompas hahaha pengin bakso dan mi ayamnya lagi. Kangen bikin film pendek. Kangen Inaugurasi. Yang paling dikangenin ya Canon 60D yang udah nggak pernah aku pegang lagi sejak pulang ke Jogja. Pengin banget ke Jakarta lagi, main bareng lagi, ke kantor lagi. Tapi diri ini tertahan di kampung halaman sampai waktu yang tidak ditentukan (halah). Ya pokoknya Igna lagi kangen sama kalian semua, guys. Baik-baik di sana, ya.

Suffering, a poem.

S  U  F  F  E  R  I  N  G

Here I am.

Standing in stillness,

looking into nothingness,

screaming pointless,

powerless,

hopeless.

I’m walking into emptiness.

Going to the darkness.

My life is meaningless.

Poem by me.

Note: I’m not depressed. I love my life so, very, much. I just got an inspiration and then wrote this.

Lebaran

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435H buat saudara-saudara aku yang Muslim!

Lebaran itu………. adalah salah satu hari yang paling ditunggu-tunggu orang banyak. Aku juga salah satu orang yang menunggu-nunggu datangnya hari Lebaran walaupun aku bukan umat Muslim. Kenapa? Ada beberapa faktor pendukung.

Yang pertama, libur puasa-lebaran. Orang macam saya yang dari TK bersekolah di sekolah swasta Katolik dan baru kali ini merasakan manis-pahitnya SMA Negeri sangat menikmati saat-saat libur puasa-lebaran yang panjangnya hampir sama kayak libur semester hahaha. Lagian banyak film animasi yang diputar di tivi. Nggak enaknya ya itu, pas mau main eh temen-temennya pada puasa semua, nggak ada yang bisa diajak batal bareng.

Yang kedua, lebaran identik dengan kue-kue dan hidangan yang menggoda iman. Contohnya Nastar, Kastengel, Putri Salju, Opor Ayam, dan Rendang. This is not the heaven of food, but the heaven itself. Siapa sih yang nggak doyan mereka? Di rumah kalau buka toples nastar sebelum lebaran bisa gawat, langsung habis! Tapi mabok juga kalau setiap hari selama minggu Lebaran makan Opor Ayam terus tiga kali sehari…

Yang ketiga, baju baru! Seneng aja ikut belanja baju baru. Saya kan juga mau punya baju baru, nggak punya baju bagus nih, di lemari isinya baju tidur semua. Sudah kumal.

Yang keempat, tak lain dan tak bukan THR. Walaupun jumlah THR berbanding terbalik dengan jumlah umur. Semakin besar kamu, semakin sedikit THR yang kamu dapatkan. Coba bandingin aja jumlah THR kamu dengan adik-adik kamu yang masih imut-imut.

Ya gitu deh kalau Lebaran. Tapi sayanya nggak mudik, lha wong kampung halamannya di sini, di Jogja tercinta ini. Kalau Lebaran ya paling halal bihalal ke Solo, terus ke makam.

Biasanya kalau lagi halal bihalal sering ditanya-tanyain sama saudara-saudara. “Igna kelas berapa?” “SMP mana?” “Loh udah SMA?” “Kok udah besar, kayaknya dulu kecil.” “Udah punya pacar belum?” “SMA? Kirain SMP.” Capek deh. Lucu ya, masa disuruh jadi kecil terus. Dan sebagian besar pertanyaan hanya kujawab dengan………senyuman :)

This is not about what your RELIGION is. This is TRADITION.

Sekali lagi, Selamat Lebaran!!! Maafin ya kalau Igna banyak salah…

WIP: Freedom for All Nations

Belum selesai, kak...

Belum selesai, kak…

I’m currently working on this, sebuah karya iseng-iseng yang idenya muncul saat libur puasa-lebaran.

Bisa dimengerti kan, gambarnya? Itu gambar tangan orang lagi ngelepas merpati putih yang membawa bendera negara-negara di dunia (dari atas ada Swedia, Kanada, Swiss, Jerman (iya, itu Jerman. Cuma kurang item aja kok!), Perancis, Hongaria, Finlandia, Belanda, Indonesia, Thailand, Vietnam, RRC, Jepang, Korea Selatan (seriusan itu ceritanya bendera Korea Selatan, bukan logo Mozilla Firefox!), Palestina (udah, percaya aja), Israel, dan yang terakhir Ukraina). Udahlah, gambarnya nggak usah diprotes, saya emang nggak bisa gambar bendera (((emot nangis wasap))).

Kenapa burung merpati putih? Mungkin ada yang bertanya-tanya waktu lihat gambar ini. Saya pakai burung merpati karena burung yang satu ini merupakan simbol perdamaian, kebebasan, dan cinta kasih. Melihat sekarang sedang banyak konflik di belahan dunia yang lain, jadi saya pikir gambar merpati itu pas untuk membuat karya seni dengan tema yang diangkat dari cita-cita mulia PBB, menciptakan perdamaian dan keamanan dunia.

Iya, itu gambarnya nggak kelar-kelar gara-gara nggak punya pensil warna hitam…….